Hari Pahlawan, Momentum Berjuang, Perkokoh Persatuan

Menyambut peringatan hari pahlawan, PKPT IPNU IPPNU Kampus Pendidikan khittah wa Khidmah adakan diskusi dengan tema “Perkokoh Persatuan Bercermin dari Hari Pahlawan” yang bertempat di Kantor MWC Klojen Malang (Belakang TMP) pada Sabtu, (2/11).

Diskusi kali ini sangat spesial karena dihadiri oleh Saudara Michael yang merupakan mahasiswa jurusan sejarah penganut ajaran Budha. Bisa dikatakan diskusi kali ini juga menyingung sedikit pembahasan mengenai lintas agama. Peringatan hari bersejarah rakyat Indonesia tinggal menghitung hari, sebagai organisasi yang bertujuan untuk memperkuat dakwah aswaja di kampus, maka diskusi dengan tema di atas dibahas secara mendalam dengan berbagai sudut pandang seperti dari sisi santri, sosial, milineal dan sastrawan.

Sebelum diskusi dimulai, moderator membacakan Curriculum Vitae dari masing-masing panelis. Kemudian para panelis dipersilahkan untuk mengutarakan pendapatnya dari sudut pandang masing-masing, seperti Muhammad Afifuddin salah satu panelis yang berpendapat dari sisi santri bahwa “santri itu harus berani keluar dari zona nyaman dimana seorang santri wajib menghadapi tantangan, tidak lari dari kenyataan dan masalah yang sedang dihadapi” sama halnya dengan pahlawan yang harus memiliki rasa tanggung jawab besar dan tidak boleh mengacuhkan tanggung jawabnya karena seorang pahlawan tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan memikirkan nasib seluruh bangsa Indonesia.

IMG-20191103-WA0152

Dokumenasi: Suasana saat diskusi berlangsung

Sehingga jika dikaitkan dengan peran santri kala itu ketika Ir. Soekarno sowan pada Kyai Hasyim Asy’ari beliau bertanya mengenai apa hukum membela tanah air, Kyai Hasyim Asy’ari menanggapi bahwa bagi seorang santri membela tanah air adalah wajib. Agama tidak akan bisa berkembang di negara yang terjajah. Oleh karenanya pada tanggal 22 Oktober ada sebuah forum yang diadakan oleh para santri untuk mengeluarkan resolusi jihad agar seluruh santri ikut serta berjuang melawan penjajah dan khususnya rakyat Surabaya. Kemudian pada tanggal 30 Oktober Jenderal dari sekutu tewas dan puncaknya ada pada tanggal 10 November yaitu hari pahlawan.

Panelis kedua yaitu Annisaul Karomah menambahkan “untuk memperkokoh bangsa ini bisa dengan hal-hal yang kecil terlebih dahulu, misalnya di PKPT harus mampu menanamkan rasa tanggung jawab, ikhlas dan kesadaran yang tinggi serta loyalitas terhadap organisasi, tidak hanya di PKPT tetapi dalam perkara yang lain juga”. Pendapat pribadi panelis “ saya bersyukur hidup di zaman milenial seperti ini karena tidak bisa dibayangkan bagaimana jika hidup pada zaman penjajahan dahulu, pasti semua serba susah” ungkap Annisaul seraya bercerita tentang keluarganya yang ikut berjuang melawan PKI tempo dulu.

Setelah adanya pendapat dari sisi santri dan milineal, selanjutnya dari sisi sosial yang dijelaskan oleh panelis bernama Ahmad Hibatullah dari jurusan sejarah UM, “titik balik dari hari santri adalah 10 November, dalam sejarah banyak kyai dan santri yang berkontribusi”. Jika ditanya apa itu pahlawan ? bagaimana jawaban anda ? apakah yang dikatakan pahlawan adalah seseorang yang selalu berjuang di medan peperangan, jawabannya tentu tidak. Namun konteks yang dibahas pada 10 November adalah khusus mengenai jasa-jasa pahlawan yang berjuang melawan penjajah untuk kemerdekaan Republik Indoensia. Rekan Hibatullah sangat menekankan bahwa sebagai generasi milineal seperti saat ini boleh saja memposting orang tua kita saat hari pahlawan, namun ada baiknya jika momentum hari pahlawan diisi dengan pengetahuan-pengetahuan yang mencerminkan pahlawan nasional saja. Karena menurutnya memposting hari pahlawan versi orang tua bisa dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu hari pahlawan nasional terlebih dahulu.

Menilik sejarah, bahwa pahlawan nasional tidak hanya dari NU saja tetapi salah satunya juga Tuanku Imam Bonjol yang merupakan aliran wahabi juga merupakan pahlawan nasional, untuk membela tanah air tidak boleh fanatik dengan satu golongan. Agama dan negara harus saling berkaitan. Rekan Hibatullah lagi-lagi mengingatkan bahwa selama bendera NU masih di bawah merah putih, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menghormati bendera merah putih.

Hal senada juga dikatakan oleh panelis yang terakhir yaitu Fahma Lailatus dari jurusan sastra inggris UM yang membacakan sebuah puisi berjudul “Kamus Kecil karya Joko Pinurbo”. Dalam puisinya Rekanita Fahma mengambil kesimpulan bahwasanya “sekarang rakyat Indonesia bisa dikatakan mulai kehilangan jati diri dari yang seharusnya citizen menjadi netizen” panelis mewanti-wanti jangan sampai sebagai rakyat Indonesia menghilangkan kecintaan terhadap tanah air ketika sudah pandai berbahasa asing misalnya, lalu mulai melupakan bahasa indonesia. Karena sebelum memperdalam bahasa asing harus memperdalam bahasa indonesia terlebih dahulu. Meskipun bahasa asing sangat penting di era saaat ini. Tetap saja bahasa indonesia yang harus kita junjung sebab bahasa indonesia merupakan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia, jika bukan kita penduduk pribumi asli, lalu siapa lagi yang akan mempertahankannya, sangat tidak mungkin jika orang-orang asing yang mempertahankan bahasa Indonesia tersebut.

Sesi berikutnya yaitu pembahasan mengenai peran yang telah dilakukan untuk memperkokoh persatuan bangsa Indoneisa dengan bercermin pada hari pahlawan, dan dilanjutkan dengan pembahasan artikel berjudul “Menhub: Perangi Hoaks Tak Bisa Sendirian, Perlu Kersa Samapara panelis secara keseluruhan menyimpulkan bahwa meskipun Indonesia sifatnya legowo dan neriman, tetapi tetap saja harus mampu memilah dengan baik berita apapun yang diterima, apalagi di media sosial. Sebagai generasi NU harus pandai berdiskusi dengan banyak referensi sehingga mampu menerima pendapat-pendapat yang beragam dan tidak kolot dengan pendapat pribadi. Ngopi (Ngolah Pikir) menjadi alternatif untuk meminimalisir penyebaran berita hoaks.

IMG-20191103-WA0151

Dokumentasi: Foto bersama panelis dan peserta diskusi

Sebelum diskusi berakhir dan sesi tanya jawab dibuka, moderator terlebih dahulu memperlihatkan sebuah video reaksi dari Veteran yang menyaksikan ratusan “mahasiswa bersumpah untuk menjadikan Indonesia negara khilafah” melihatnya sungguh miris, betapa ketidaktahuan mereka membutakan mata batin dan hati nurani mereka. Lupa bahwa bangsa Indonesia merdeka karena perjuangan dari para pahlawan yang tidak mementingkan golongan, agama, ras dan budaya masing-masing. Melainkan bersatu untuk satu tujuan yaitu membela tanah air dengan dasar pancasila dan menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika.

Closing Statement dari para panelis yaitu hal baik harus dimulai dari diri sendiri, seperti tanggung jawab, keluar dari zona nyaman dan jangan salah memanfaatkan momentum yang ada. Sebagai generasi NU yang milineal harus melek literasi jangan mudah termakan hoaks dengan propaganda dari berbagai golongan. Dan yang terpenting adalah kita tidak luput untuk selalu mendoakan orang tua serta para pahlawan yang telah gugur mendahului kita.

“Diskusi kali ini tidak hanya selesai pada forum ini, tetapi lebih dirasakan dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata agar segala pembahasan yang dibicarakan tadi memiliki faedah yang bermakna” ujar Rekan Fatus ketua IPNU Kampus Pendidikan Khittah wa Khidmah UM yang juga menjadi peserta dalam diskusi. Red (Suciatilia).

268 thoughts on “Hari Pahlawan, Momentum Berjuang, Perkokoh Persatuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *