Lirik Tanpa Khatam

Lirik
Khatam


puisi

Tatkala selaksa cerita mendera dan meraja.

Luruh bekuku atasmu.

Kini aku sedang bersore dengan syi’ir pujian, yang kutitipkan kepada sinar diujung pandang kutatap langit barat, orang menyebutnya cahaya fatamorgana, 

Sebuah keindahan yang tak berujung ketika dikejar, sebab sebenarnya itu hanyalah ilusi alam.

Inginku membuat rangkaian nada, berbusana sayang, bertahta cinta, beraroma madu.

Irama itu bercerita tentang seorang wanita,

Manakala mulia, selalu ada dalam benak hatinya, 

Cantik, serasa abadi menyemati perlakuannya,

Sutra, sifat tuk gambarkan tutur katanya.

Syiir itu berjudul “kasih”

Liriknya kutulis dihampar udara, lalu kulayangkan di langit-langit pada detik waktu yang mulia.

Berkisahlah sang syi’ir, tentang wanita yang tak pernah beristirahat dari segala penat dan misi mulia, 

Dari segala tatu dan sakit yang tak pernah ia sambat.

Tak lain hanya untuk melihat senyum dari peri kecil pembawa cerita dimatanya.

Pun sore berlalu,,

Aku tetap dengan dudukku, memutar memori yang ditemani oleh bir dalam cawan-cawan suci,

Akan tetapi…

Syahdunya ditumpah oleh beringasnya ego-ego hati

Maafkan sisi jalang yang muncul di masa-masa kelam, kini titah-titah ketuhanan mulai  tersedu-sedu seperti rintihan hujan di gelap suatu malam

Suatu masa…

Bilamana mulut tidak tepat dalam berucap,

Hati yang salah berfirasat,

Mata tak lagi benar dalam melihat,

Serta telinga yang kabur saat menangkap,

Semua itu telah menggerogoti seluruh asanya,

Namun ia meleburnya dengan ruang syukur,

Meredam ego diatas tensi yang sedang naik pitam

Wanita nan slalu menyelimutiku yang tertepi disisi Kasur, tak sedikitpun berteriak agar aku bangun.

Hingga kudengar dalam hening kesunyian, tanpa keluh, tanpa kesah, dengan harap akan indah, ia tuluskan doa-doa termerdu untukku.

Semua ini tentang sepenggal nama yang tidak pernah menjadi marga sebagaimana keturunan adat Batak.

Kerap orang memanggilanya IBU..

Wanita yang selalu bangkit dari liang tandasnya,

Mengibarkan panji tekat demi senyum putra-putrinya.

Wahai ibu..

Kusampaikan kepadamu,

Bahwa cintaku melebihi semua kata, hingga ku terdiam dan tak sanggup untuk berkata

Cintaku tanpa mengapa dan lantas kenapa, sebab rasa cinta ini telah matikan semua alasan

Bilamana kurindu, merinduku bahkan lebih kuat dari rasa sakitnya

Ibu…

Inilah kerangka makna atas dirimu, kususun dengan diksi-diksi yang tidak pernah khatam

Yang selalu kumohonkan dinyanyikan oleh sore, kepadamu dipenghujung hari yang kuharapkan selalu terlimpah bahagia

Karena aku sangat malu, bila harus menyanyikan syi’ir saat engkau bersore denganku, yang kian hari belum mampu membawakan bahagia.

 

Mojokerto, 26 Mei 2020Selasa – 00.47  snlail
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on google

5,754 thoughts on “Lirik Tanpa Khatam